Jumat, 11 September 2026

Indonesia Harus Keluar dari Middle Income Trap, KAHMI Didorong Jadi Penggerak Iptek dan Karya Kelas Dunia

jelajahindonesia2022@gmail.com··3 menit baca
Bagikan:
Indonesia Harus Keluar dari Middle Income Trap, KAHMI Didorong Jadi Penggerak Iptek dan Karya Kelas Dunia

JAKARTA – Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI Prof. Brian Yuliarto menegaskan Indonesia harus mampu keluar dari jebakan pendapatan menengah (middle income trap) dengan memperkuat kualitas sumber daya manusia (SDM), ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek), riset, serta inovasi.

Iklan

Penegasan itu disampaikan Prof. Brian saat menjadi pembicara dalam Simposium Nasional Majelis Nasional Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (MN KAHMI) bertajuk “KAHMI untuk Kedaulatan Bangsa” di Gedung DPR/MPR RI, Senayan, Jakarta, Kamis (10/9/2026). Simposium tersebut digelar dalam rangkaian Milad KAHMI ke-60.

Dalam paparannya, Prof. Brian mengatakan Indonesia perlu meningkatkan produk domestik bruto (PDB) per kapita hingga sekitar USD15.000 agar dapat naik kelas dan keluar dari middle income trap. Saat ini, PDB per kapita Indonesia berada di kisaran USD5.000, sementara Malaysia sekitar USD12.000, Jepang USD14.000, dan Singapura mencapai sekitar USD85.000.

“Indonesia harus berani menargetkan PDB per kapita USD15.000. Kita harus keluar dari middle income trap,” ujar Prof. Brian.

Menurutnya, target tersebut tidak semata-mata menyangkut pencapaian angka ekonomi. Lebih jauh, target itu harus diwujudkan melalui peningkatan produktivitas, kualitas pekerjaan, pendapatan masyarakat, penguasaan teknologi, serta kesejahteraan rakyat.

Indonesia, kata dia, tidak boleh hanya menjadi pasar bagi produk dan teknologi negara lain. Indonesia harus mampu menghasilkan teknologi dan karya bernilai tambah tinggi yang memiliki daya saing di tingkat global.

KAHMI Harus Beyond Nationalism

Dalam kesempatan tersebut, Prof. Brian juga mendorong KAHMI menggagas masyarakat Indonesia yang “beyond nationalism”—masyarakat yang tidak hanya memiliki kebanggaan terhadap bangsa, tetapi juga mampu menghasilkan karya yang kompetitif dan memberikan pengaruh di tingkat global.

“KAHMI harus bisa menggagas masyarakat Indonesia yang beyond nationalism,” ujarnya.

Ia menilai jaringan alumni HMI yang tersebar di berbagai sektor merupakan modal strategis yang perlu dikonsolidasikan untuk memperkuat pembangunan bangsa.

Menurut Prof. Brian, penguasaan jejaring iptek yang dimiliki KAHMI dapat menjadi enabler atau penggerak lahirnya karya-karya besar anak bangsa.

Iklan

“Penguasaan network iptek KAHMI bisa menjadi enabler lahirnya karya besar,” tegasnya.

Ia menambahkan, kedaulatan bangsa pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh kekuatan politik dan ekonomi, tetapi juga oleh kemampuan anak bangsa menciptakan karya yang mampu bersaing dan menguasai pasar dunia.

“Kedaulatan bisa tercapai dari karya anak bangsa yang menguasai dunia,” katanya.

Karena itu, KAHMI didorong untuk mengoptimalkan jejaring intelektual dan profesional yang dimilikinya dengan membangun kolaborasi di bidang iptek, inovasi, dan kewirausahaan.

Kolaborasi tersebut diharapkan mampu mendorong Indonesia bertransformasi dari sekadar pengguna menjadi pencipta teknologi dan karya kelas dunia.

Prof. Brian menilai kiprah alumni HMI yang telah mewarnai berbagai bidang kehidupan nasional merupakan modal penting untuk memperkuat kontribusi tersebut.

Gagasan KAHMI Akan Disampaikan kepada Presiden

Sementara itu, Koordinator Presidium MN KAHMI Romo Muhammad Syafii, yang juga merupakan inisiator Simposium Nasional, mengatakan berbagai gagasan kebangsaan dan keumatan yang dirumuskan dalam forum tersebut akan disampaikan kepada Presiden RI Prabowo Subianto.

“Gagasan kebangsaan dan keumatan dalam Simposium Nasional MN KAHMI ini akan disampaikan kepada Presiden RI Prabowo Subianto sebagai kontribusi KAHMI,” kata Romo.

Menurutnya, KAHMI tidak ingin berhenti pada forum diskusi semata. Organisasi alumni HMI tersebut harus mampu melahirkan gagasan konkret dan strategis sebagai bentuk kontribusi bagi umat, bangsa, dan negara.

Melalui Milad KAHMI ke-60, Simposium Nasional diharapkan menjadi momentum konsolidasi pemikiran dan jejaring alumni HMI untuk memperkuat kemandirian bangsa, mempercepat penguasaan iptek, meningkatkan kualitas SDM, serta mendorong terwujudnya Indonesia yang maju dan berdaulat.

Lebih dari itu, KAHMI diharapkan mampu mengambil peran strategis dalam melahirkan karya-karya anak bangsa yang tidak hanya membanggakan Indonesia, tetapi juga diperhitungkan di tingkat dunia.

Iklan

Bagikan:

Berita Lainnya